Tag

, , ,

Kesesatan LDII & Islam JamaahTahun 1970-an MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan dua fatwa identik yaitu Masalah Jama’ah-Khalifah dan Bai,at yang dianut oleh Jamaah Muslimin Hizbullah pimpinan Syeh Wali Al Fatah dan Fatwa tentang Islam Jamaah yang dimotori oleh KH. Nur Hasan Al-Ubaidah. Kedua fatwa tersebut memiliki esensi yang sama yaitu: Masalah Islam jamaah, Baiat dan Khalifah/Amirul Mukminin.

Dalam fatwa Masalah Jama’ah-Khalifah dan Bai’at, MUI hanya memberikan keterangan tentang istilah-istilah: Jama’ah, Khalifah dan Bai’at namun sama sekali tidak menyatakan kelompok tersebut menyimpang atau sesat. Dalam poin 4.1. fatwa tersebut menyatakan: “Biasanya kalau ajarannya menyimpang hanya mempunyai pengikut terbatas dan tidak, berkembang”. Dalam fatwa tersebut MUI TIDAK mengeluarkan larangan terhadap aliran tersebut.

Sebaliknya, walaupun memiliki muatan yang sama persis, Fatwa tentang Islam Jamaah berisikan larangan terhadap kelompok aliran tersebut karena dianggap menyimpang atau sesat.

Fatwa MUI tentang Islam Jamaah akhirnya terbukti menjadi batu sandungan dalam kerukunan umat beragama di alam demokrasi dan kebebasan saat ini. Beberapa pokok ajaran Islam jamaah yang menjadi kontrovesi itu adalah:

  1. Faham ini menganggap bahwa umat Islam yang tidak termasuk Islam Jama’ah adalah termasuk 72 golongan yang pasti masuk neraka,
  2. Umat Islam harus mengangkat “Amirul Mukminin” yang menjadi pusat pimpinan dan harus mentaatinya,
  3. Umat Islam yang masuk golongan ini harus dibai’at dan setia kepada “Amirul Mukminin” dan dijamin masuk surga,
  4. Ajaran Islam yang sah dan boleh dituruti hanya ajaran Islam yang bersumber dari “Amirul Mukminin”.
  5. Pengikut aliran ini harus memutuskan hubungan dari golongan lain walaupun orang tuanya sendiri,
  6. Tidak sah shalat di belakang orang yang bukan Islam Jama’ah,
  7. Pakaian shalat pengikut Islam Jama’ah yang tersentuh oleh orang lain yang bukan pengikutnya harus disucikan,
  8. Suami harus mengusahakan agar isterinya turut masuk golongan Islam Jama’ah, dan jika tidak mau maka perkawinannya harus diputuskan,
  9. Perkawinan yang sah adalah perkawinan yang direstui oleh “Amirul Mukminin”,
  10. dan khutbah yang sah bila dilafazkan dalam bahasa Arab.

Semua generasi muda LDII saat ini, yang tidak tahu menahu tentang Islam Jamaah ataupun Darul Hadist, merasa bingung, dan tidak mengerti, bagaimana sebagian oknum masih mengaitkan keberadaan LDII dengan aliran Islam jamaah.

PERTAMA, apabila benar bahwa LDII adalah jelmaan Islam Jamaah maka fatwa MUI tersebut adalah sesuatu yang perlu dipertanyakan. Landasan fatwa tersebut penuh dengan kebohongan, atau pernyataan yang tidak sesuai dengan fakta. Fatwa tentang Islam Jamaah dikeluarkan dengan cukup serampangan. Larangan terhadap faham Islam Jamaah penuh dengan muatan politik dan kepentingan-kepentingan sebagian golongan.

Pernyataan “Bahwa ajaran Islam Jama’ah, Darul Hadits (atau apapun nama yang dipakainya) adalah ajaran yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya dan penyiarannya itu memancing-memancing timbulnya keresahan yang akan mengganggu kestabilan Negara”, misalnya, sama sekali tidak sesuai dengan fakta kondisi LDII. Semua program dan kegiatan LDII tidak pernah ada satupun yang berorientasi politik lebih-lebih tujuan untuk merebut kekuasaan. LDII adalah organisasi yang menjunjung tinggi dasar negara Pancasila dan UUD 1945 dan tidak diragukan lagi loyalitasnya pada pemerintah yang sah.

Fatwa tersebut tidak sesuai dengan fakta itu sangat logis mengingat fungsi MUI saat itu yang belum sepenuhnya menjadi representasi umat Islam namun lebih sebagai bemper pemerintah orde baru yang terkenal sangat represif terhadap umat Islam.

Asumsi KEDUA, apabila fatwa tersebut benar adanya maka LDII adalah BUKAN Islam Jamaah. Isu bahwa anggota Islam jamaah harus memutuskan hubungan dari golongan lain walaupun orang tuanya sendiri, itu tidak pernah terjadi di LDII. Ajaran LDII sebenarnya tidak berbeda dengan pemahaman umat Islam pada umumnya yang mewajibkan membina silaturahim dan hormat serta taat pada kedua orang tua. Saat inipun bisa dibuktikan, banyak keluarga jamaah LDII yang campuran, terdiri dari berbagai keyakinan namun tetap hidup berdampingan, rukun, dan harmonis.

Jika ada yang bertanya apakah LDII berbentuk jamaah? Jawabnya tidak diragukan lagi, YA!

Semua organisasi massa Islam di dunia ini adalah jamaah. Berjamaah adalah perintah wajib yang harus dilaksanakan oleh umat Islam. Jamaah adalah rahmat dan perpecahan adalah azab.

كقوله صلى الله عليه وسلم: «الجماعة رحمة والفُرْقَةْ عذاب»

…sebagaimana sabda Nabi SAW: “Jamaah adalah rahmat dan perpecahan adalah azab”.

بَابُ مَا جَاءَ فِي لُزُومِ الجَمَاعَةِ
…، مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الجَنَّةِ فَلْيَلْزَمُ الجَمَاعَةَ،…*[ سنن الترمذي أَبْوَابُ الْفِتَنِ]
[حكم الألباني] : صحيح

Barang siapa ingin di tengah-tengah Surga maka tetapilah jamaah

Jamaah adalah perkumpulan umat Islam yang didalamnya diangkat seorang pemimpin dan masing-masing terikat dalam norma-norma dan aturan-aturan agama. Inti dari jamaah adalah PERSATUAN dan KEKUATAN. Oknum-oknum yang benci jamaah tidak lain adalah musuh Islam yang tidak ingin melihat umat Islam bersatu dan kuat.

Apa jadinya kalau setiap orang Islam maunya beribadah sendiri-sendiri, tidak mau mengikatkan diri dalam perkumpulan umat Islam (Jamiatul Muslimin), tidak merasa memiliki pemimpin, tidak mau diatur dengan norma-norma, nilai-nilai yang berlandaskan Al-Quran dan Al-Hadist? Dapat dipastikan bahwa satu generasi ke depan Islam hanya akan tinggal namanya karena itulah firqoh, pecah belah.

Kekuatan Islam bukan karena banyaknya orang Islam. Kekuatan Islam ada di organisai-organisasi Islam. Tanpa ikatan organisasi yang terpimpin, umat Islam akan terpecah belah tidak memiliki kekuatan serta mudah diombang-ambingkan dan gampang dihancurkan. Islam telah tercerai-berai bahkan bentuknyapun tidak kelihatan. Bentuk asli Islam adalah JAMAAH. Bukan Islam kalau tidak berjamaah.

Karena itu, jargon Ustadz Nur Maulana di TV bukanlah banyolan murahan penyegar suasana. Namun itu adalah kalimat mukjizat yang akan mempersatukan seluruh umat Islam di dunia.

“Jamaa…. h, o, jamaah”