Tag

kebodohan-akar-kesesatanKenapa di dunia ini banyak kesesatan dan kesyirikan? Praktek-praktek ibadah yang nampaknya pol tapi ternyata telah jauh menyimpang dari akidah. Para manusia yang menyembah patung. Umat yang mengkeramatkan kuburan. Keyakinan orang suci yang sudah mati bisa memberikan karomah dan syafa’at.

Jawabnya adalah karena KEBODOHAN. Kebodohan adalah akar dari segala kesesatan dan kemusyrikan di dunia ini. Mereka adalah umat yang tidak dapat berpegang teguh pada ajaran Nabi dan Rasul Alloh. Coba simak ayat Alloh dalam Al-Quran Surah Nuh ayat 23.

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا (23)

Mereka (kaum Nabi Nuh) berkata,”Janganlah kalian meninggalkan para sesembahan kalian dan juga jangan meninggalkan Wadd, Suwa’, Yagutz, Ya’uq dan Naser”.

[Surah Nuh (71) ayat 23]


Siapakah Wadd, Suwa’, Yagutz, Ya’uq dan Naser? Mereka adalah orang-orang alim dan shalih yang semasa hidupnya selalu membimbing dan memberikan semangat umatnya untuk beribadah kepada Alloh. Seteleh semua panutan mereka itu meninggal dunia, maka para pengikutnya merasa kehilangan dan khawatir tidak bisa semangat lagi dalam ibadah.

Maka dibuatlah lukisan atau patung tokoh-tokoh idola mereka itu dengan tujuan untuk mengenang ucapan mereka dan perbuatan baik mereka agar mereka tetap merasa mendapat tuntunan dan bersemangat dalam ibadah.

Generasi berikutnya juga masih menyembah Alloh namun mereka mulai berlebihan mengagungkan patung-patung tersebut. Setelah berjalan beberapa generasi manakala para ahli ilmu, orang alim dan sholih telah tiada, yang tersisa hanya orang-orang bodoh. Saat itulah iblis menyesatkan hati mereka dengan membisikkan,”Orang-orang tuamu membuat patung ini dengan tujuan untuk meminta syafaat dari mereka agar lebih dekat dengan Alloh”.

Akhirnya umat tersebut tersesat dengan menjadikan patung-patung tersebut sebagai perantara untuk mendapatkan syafaat di sisi Alloh.

Kesesatan Zaman Akhir

Dalam kontek zaman akhir sekarang ini, penyimpangan akidah adalah akibat umat yang tidak lagi mau berpegang teguh pada ajaran Rasulullah salallohu alaihi wassalaam yang tertuang dalam Kitabillah dan Sunnah Nabi yaitu Al-Quran dan Al-Hadist.

Umat enggan mempelajari agama Islam dari sumber aslinya yaitu Quran dan Hadist. Masyarakat lebih suka mendengarkan ceramah-ceramah yang menghibur di media dari pada datang langsung mengkaji Kitab Alloh dan Sunnah Rasul di masjid. Generasi muda lebih suka membaca buku-buku karangan yang tidak jelas sumber dan kredibilitas pengarangnya dari pada belajar agama dari ulama-ulama shahih di lembaga pendidikan Islam, madrasah dan pesantren.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (2)

Dia (Alloh) yang mengutus dalam umat yang BODOH beberapa Utusan dari golongan mereka, mereka (Utusan) membacakan kepada umatnya beberapa ayat Alloh dan mensucikan mereka dan mengajari mereka pada Kitab dan Hikmah (Sunnah Nabi) dan bahwasannya ada kalian sebelum itu niscaya dalam kesesatan yang nyata.

[Surah Jumu’ah (62) ayat 2]

Keengganan umat belajar agama dari sumber aslinya menjadikan mereka mudah dirasuki pemikiran-pemikiran yang jusru berlawanan dengan akidah dan syariat Islam. Kebodohan akan ilmu Quran dan Hadist membuat orang mudah disesatkan, dikaburkan pemahaman agamanya sehingga tidak bisa dibedakan antara benar dan salah. Banyak orang mengira telah mengamalkan agama dengan benar namun ternyata menyimpang dari tuntunan Allah dan Rasulullah SAW. Perhatikan ayat Allah di bawah ini:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (104)

Katakanlah (wahai Muhammad),”Maukah aku ceritakan pada kalian tentang orang-orang yang lebih merugi amalan-amalannya? Mereka orang-orang yang batal segala amalannya di dunia sedangkan mereka menganggap memperbaiki amalannya”.

[Surah Al-Kahfi (18) ayat 103-104]

Mengkultuskan seorang tokoh yang dianggap bisa memberi syafaat pada hari kiamat. Maka kuburannya selalu diziarahi, dimintai doa, hari kelahiran dan kematiannya diperingati, benda-benda yang terkait dengannya diagungkan dan dikeramatkan. Merasa hanya orang-orang tertentu yang bisa mendekat pada Alloh sedangkan manusia pada umumnya tidak akan mampu, sehingga menjadikan orang-orang khusus tersebut sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Alloh.

Keyakinan bahwa waliyulloh bukan sekedar perantara agama, namun waliyulloh diyakini bisa memberikan syafa’at, mengabulkan doa dan mengampuni dosa seseorang. Seorang waliyulloh bukan sekedar pemimpin atau guru besar pembawa hidayah Alloh namun diyakini waliyulloh bisa memberikan manfaat dan dapat menyebabkan mudlorot bagi seseorang.

Semua keyakinan tersebut adalah bentuk kesesatan dan syirik pada zaman akhir yang tidak sesuai dengan petunjuk Alloh dan tuntunan Rasululloh SAW dalam Al-Quran dan Al-Hadist.

Mengkaji Quran dan Hadist Cegah Kebodohan dan Kesesatan

Maka tidak dapat ditawar lagi bahwa setiap individu orang Islam harus mengkaji ajaran islam secara langsung dari sumber aslinya, Quran dan Hadist, agar terhindar dari kebodohan yang dapat menjerumuskan pada pemikiran-pemikiran, faham-faham dan pengamalan-pengamalan sesat yang tidak sesuai dengan tuntunan Alloh dan Rasululloh SAW.

Mengkaji dan memahami Kitabillah dan Sunnah Nabi juga akan mencegah umat mengamalkan agama berdasarkan ro’yinya, pendapat dan angan-angan sendiri tanpa dilandasi dalil Quran dan Hadist. Maka ketika umat meninggalakan ajaran Nabinya dan mengandalkan ro’yinya maka mereka sesat dan menyesatkan. Perhatikan hadist Nabi yang ditulis dalam Musnad Abi Ya’li Al-Mushali No. 5856.

5856 – حَدَّثَنَا الْهُذَيْلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحِمَّانِيُّ، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الزُّهْرِيُّ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَعْمَلُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بُرْهَةً بِكِتَابِ اللَّهِ، ثُمَّ تَعْمَلُ بُرْهَةً بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ، ثُمَّ تَعْمَلُ بِالرَّأْيِ، فَإِذَا عَمِلُوا بِالرَّأْيِ فَقَدْ ضَلُّوا وَأَضَلُّوا»

Sesuai dengan Firman Alloh dalam surah Fatir ayat 28, bahwa orang-orang yang benar-benar dapat bertaqwa kepada Allah adalah orang-orang yang berilmu. Orang-orang bodoh ibadahnya hanya ikut-ikutan dan berorientasi pada manusia, pembimbingnya atau pimpinannya.

Amalan-amalan yang berdasarkan pada Kitabillah dan Sunnah Nabi dijamin benarnya dan pasti mendapatkan surga.

…إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ (28)

…sesungguhnya yang takut kepada Alloh adalah dari hambaNya yang berilmu sesungguhnya Alloh Maha Mulya Maha Pengampun.

[Surah Fatir (35) ayat 28]
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (153)

Dan ini (Al-Quran) adalah jalanku yang lurus maka ikutilah ia, dan janganlah mengikuti setiap jalan maka akan terpecah belah kalian dari jalan Alloh, demikian Aku (Alloh) berwasiat pada kalian agar kalian bertaqwa.

[Surah Al-Anam (6) ayat 153]
1874 – أَخْبَرَنَا أَبُو مُصْعَبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مَالِكٌ؛ أَنَّهُ بَلَغَهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ , وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلى الله عَلَيه وَسَلم.

… Rasulallohi alaihi wasallam bersabda:”Aku telah tinggalkan dalam kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selagi berpegang teguh pada keduanya: Kitaballoh dan sunnah NabiNya sholallohi ‘alaihi wasalam.

[Hadist Riwayat Malik]