Tag

, , , ,

Pontianak, NU Online
Wapres menilai, Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas besar Islam dalam sejarahnya yang panjang telah membuktikan peranannya yang besar dan saya yakin akan terus berperan dalam mewujudkan Indonesia yang sejahtera, damai, rukun, dan bermartabat.

Hal ini dikatakan Boediono saat membuka Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional Ke-7 Antar-Pondok Pesantren, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Internasional Ke-1 Antar-Lembaga Al-Qur’an, Musyawarah Nasional (Munas) Ke-4 Jam`iyyatul Qurra`Wal Huffazh, di Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (3/6).

Ditambahkan, sebagaimana diketahui bersama bahwa Jam`iyyatul Qurra`wal Huffazh (JQH-NU) didirikan untuk mengorganisasi para pencinta dan ulama Al-Qur’an baik para qori-qoriah pembaca Al-Qur’an, maupun para hafidz-hafidzah penghafal Al-Qur’an yang ada di berbagai pondok-pondok pesantren dengan tujuan meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran Al-Qur’an.

“Dalam perjalanan sejarahnya sejak didirikan pada tahun 1371 Hijriyah atau tahun 1951 Masehi, telah melahirkan qori-qoriah dan ulama Al-Qur’an yang bertaraf nasional dan internasional,” katanya.

Ia mengatakan sejumlah sila dalam Pancasila seluruhnya paralel dengan nilai luhur yang dianut umat Islam sesuai ajaran Al-Qur’an sehingga harus sungguh-sungguh melaksanakan prinsip mulia dengan konsisten dan konsekuen.

“Tidaklah berkelebihan bila saya mengatakan bahwa sesungguhnya Pancasila paralel dengan nilai-nilai luhur sesuai ajaran dalam Kitab Suci itu,” katanya.

Hadir dalam acara itu antara lain Menteri Perumahan Rakyat Jan Faried, Gubernur Kalbar Cornelis MH, serta Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj.

Wapres menilai, tidaklah lengkap keislaman seseorang bila masih berbuat zalim kepada sesamanya dan keadilan sebagai nilai universal harus terus diupayakan baik dalam hubungan antar manusia, antar negara, antara pemimpin dan yang dipimpin, antara majikan dan buruh, antara guru dan murid, antara hakim dan yang dihakimi, dan terutama antara yang kuat dan yang lemah.

Kedua nilai utama dalam Islam itu, kata Boediono, yakni Tauhid atau Keesaan Tuhan dan Keadilan sesungguhnya merupakan bagian penting dari ideologi negara kita yang diamanatkan oleh para pendiri negara ini dalam sila-sila yang tercantum dalam Pancasila.

Bagi kaum Muslim, kata Wapres, Al-Qur’an merupakan kitab yang diimani bersama, sebagai petunjuk dan penuntun kehidupan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Al-Qur’an, tambahnya, tidak hanya berisi prinsip-prinsip keimanan, namun juga sumber nilai-nilai universal, ilmu pengetahuan, hingga hikayat kehidupan, yang dikemas dengan bahasa yang indah, penuh dengan filosofi keteladanan, serta pesan moral yang luhur dan agung.

“Al-Qur’an memberi tuntunan kepada kita agar membangun kehidupan yang harmonis, saling bertoleransi, hidup dalam kedamaian dan hidup untuk saling mengenal, saling mengasihi, saling memberi maaf, dan tidak membenci satu sama lain,” katanya.

“Al-Qur’an mengajak manusia untuk bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan, bukan dalam kejahatan dan permusuhan,” kata BOediono.

Bagi kaum Muslim, Al-Qur’an adalah sumber petunjuk dan pedoman hidup yang tidak pernah kering. “Meski Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT dalam bahasa manusia untuk dapat dipahami oleh manusia, namun menurut para ulama, pemahaman manusia terhadap Al-Qur’an masih bertingkat-tingkat,” katanya.

Redaktur: Mukafi Niam
Sumber : Antara, nu.or.id