Tag

,

Oleh AYA BATRAWY Associated Press

Kairo – Ibu Negara baru Mesir Naglaa Ali Mahmoud dan pendahulunya Suzanne Mubarak memiliki setidaknya satu kesamaan: keduanya pernah menyaksikan suami dan anak mereka ditahan di penjara Mesir. Kesamaan tampaknya berakhir di situ saja.

Istri Presiden terguling Hosni Mubarak adalah seorang wanita glamor, lulusan universitas yang moderen dengan ibu asal Inggris. Dia dikritik karena elitis, sombong, sok penting, sok berkuasa dan melalaikan nasib rakyat jelata Mesir.

Sebaliknya, istri Presiden Islam terpilih Muhammad Morsi adalah seorang Muslim, konservatif, religious yang mengenakan jilbab dan tidak pernah kuliah. Pengamat menganggap gayanya menjadi simbol Mesir bergerak mantap menuju Islam konservatif, sementara para pendukung menyatakan bahwa sikap sederhana dan latar belakangnya mengandung jiwa demokrasi revolusi.

Naglaa Ali Mahmoud dilaporkan telah mengatakan ia akan memilih untuk tidak tinggal di Istana Presiden, dan keduanya belum bergerak masuk. Dia juga tidak mau disebut wanita pertama (first lady).

“Saya ingin disebut istri presiden,” katanya kepada The Associated Press melalui telepon. “Siapa bilang bahwa istri presiden adalah first lady?”

Sebaliknya, dia bilang lebih suka dipanggil Ummu Ahmed, yang berarti ibu dari Ahmed anaknya tertua. Ini adalah tanda yang beberapa elit sekuler Mesir mungkin meremehkan sebagai patriarki. Pendukungnya mencatat tidak seperti dua first lady sebelumnya, dia tidak mengambil nama belakang suaminya di publik sebagai tanda percaya diri, yang juga tepat sejalan dengan tradisi Islam di seluruh Mesir.

Jika dia harus memiliki gelar, katanya, dia tidak keberatan disebut “pelayan pertama” rakyat.

Gayanya sejauh ini belum bisa menjadi tolok ukur perubahan yang lebih nyata dari Mubaraks, yang pemimpin korupsi besar-besaran dengan memperkaya tokoh-tokoh elit pengusaha dan pemimpin partai berkuasa sementara separoh negara dari 85 juta orang menderita dalam kemiskinan.

Morsi dan anak-anaknya, sebagaimana kebanyakan aktivis gerakan Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood), pernah dipenjara selama tiga dekade rezim Mubarak berkuasa. Rezim lama melarang Ikhwan dan menganiaya, memenjarakan dan menyiksa anggotanya sebagai lawan politik.

Tapi sekarang, ketika kepedihan rakyat Mesir telah sirna, piramida telah berubah di atas kepalanya.

Perbedaan gaya ibu negara merupakan simbol perubahan atmosfir politik Mesir. Morsi adalah presiden pertama negara itu yang dipilih secara bebas dalam sejarah modern, orang sipil Islam pertama yang memegang pemerintahan.

Dan Mubarak, 84 tahun, menjalani hukuman penjara seumur hidup karena gagal menghentikan pembunuhan ratusan demonstran selama pemberontakan. Kedua putranya Alaa dan Gamal baru-baru ini dibebaskan dari tuduhan korupsi, tetapi tetap dalam penjara menunggu persidangan baru atas tuduhan insider trading.

Dalam tiga dekade pemerintahan Mubarak, jalan diaspal dan bunga ditanam untuk menyambut kedatangan Suzanne – terkadang hanya kunjungan singkat ke sebuah universitas atau taman – dengan biaya ribuan dolar.

Ummu Ahmed secara langsung mengekspresikan perbedaan yang jelas antara dirinya dan pendahulunya-termasuk mantan ibu negara Jehan Sadat, yang, seperti Suzanne Mubarak, juga berpendidikan universitas, berpakaian modis dan ditata dan putri seorang ibu Inggris.

Tetapi di bawah sinar ketenaran barunya, dalam usia 50 tahun, gaya berkacamata Ummu Ahmed digambarkan sangat berbeda. Cara dia memakai jilbab telah dianggap oleh elit sebagai antitesis dari keglamoran. Bahkan, sudah ada perang kata-kata di media social atas penampilannya yang konservatif dan sederhana, yang sama dengan sebagian besar perempuan miskin di desa-desa dan kota di Mesir.

Abaya atau jubah hitam, adalah ciri lain dari adat istiadatnya. Ini adalah salah satu yang sama dipakai oleh banyak perempuan pengikut Ikhwanul Muslimin.

Dia tidak memakai make-up atau cat kuku sesuai dengan tradisi Islam konservatif.

Beberapa penentangnya tidak mempermasalahkan dirinya mengenakan jilbab, tetapi lebih banyak pada pilihannya atas jilbab syal panjang dengan warna solid yang menggantung melewati bahu dan dipandang sebagai seragam Ikhwanul Muslimin.

“Saya tidak mempersoalkan jilbabnya (jilbab Islam). Tapi saya masalahkan bahwa warnanya yang hijau fosfat,” kata blogger Mahmoud Salem, seorang liberal sekuler mengatakan pada AP. Ia percaya citranya memberikan pesan bahwa seperti inilah yang gadis-gadis Muslim harus kenakan dan akan mengasingkan orang Kristen dan Islam yang tidak menutup rambut mereka.

“Pada akhirnya, first lady secara diplomatis mewakili Mesir. Kami tidak memilih untuk membuatnya persona publik.. (Ikhwanul Muslimin) membuatnya persona publik” yang akan diteliti, tambahnya.

Rakyat Mesir akan melihatnya dengan seksama untuk melihat apakah Ummu Ahmed memilih untuk bertemu pejabat asing, menghadiri konferensi dan acara lainnya dengan atau tanpa suaminya, dan mengubah penampilannya untuk acara-acara formal. Pertanyaan lain adalah apakah dia akan mengikuti protokol Islam konservatif dan menolak untuk berjabat tangan atau menyentuh lawan jenis. Suaminya menentang aturan itu minggu ini, setelah ia diangkat sebagai presiden, bilamana ia diharuskan berjabat tangan dengan wanita.

Dia, sebaliknya, mungkin memilih mengambil peran lebih tenang dengan terlibat dalam proyek amal lokal dan menghindari perjalanan internasional dan diplomasi tingkat tinggi.

Sejauh ini, Ummu Ahmed belum sepenuhnya menghindar dari sorotan, sebagaimana istri penguasa lakukan dalam masyarakat Islam yang lebih konservatif seperti Arab Saudi. Dia telah memberikan beberapa wawancara kepada media, telah bertemu dengan keluarga pengunjuk rasa yang tewas dalam pemberontakan dan tampil pada kampanye terbuka untuk suaminya.

Seperti biasa terjadi di dunia Arab, Ummu Ahmed menikah sepupunya, Morsi, pada usia muda 17 tahun.

Dalam wawancara dengan Nos al-Donia, atau Half the World, sebuah majalah milik negara yang ditujukan untuk pembaca perempuan, katanya cincin dan mas kawinnya “sederhana.”

“Kondisi keuangan tidak masuk pertimbangan saya …. Apa yang menarik saya kepadanya adalah perasaan bahwa ia adalah orang yang bertanggung jawab yang akan melindungi saya,” katanya tentang Morsi. “Cukuplah bahwa saat orang tua saya meninggal, mereka sangat senang terhadap dia.”

Kurang dari dua tahun setelah ia menikah dengan Morsi, ia mengikuti suaminya ke Los Angeles, dimana ia belajar doktor bidang teknik di University of Southern California.

Dua dari lima anak mereka – empat laki-laki dan satu gadis – lahir di Amerika Serikat, sehingga mereka berkewarganegaraan AS. Dia mengatakan, kedua anaknya itu belum pulang, meskipun, mereka meninggalkan sejak anak-anak.
Sementara di California ia bekerja sebagai penerjemah Arab-Inggris bagi Muslim Amerika, dan pasangan muda terlibat dalam proyek-proyek amal. Saat itulah mereka bergabung dengan fundamentalis Persaudaraan Muslim.

Beberapa tahun kemudian di Mesir, ketika Morsi ditahan selama delapan bulan pada tahun 2008 karena kegiatan atas nama Ikhwanul yang terlarang, dia merasa mendapatkan “kedamaian batin” meskipun Morsi adalah “tulang punggung rumah tangga.”

Beberapa kali, menurut wawancara dengan Nos al-Donia, rumahnya digerebek dan anak-anaknya diinterogasi dan ditahan. Dalam suatu penggerebekan, dia menasehati anaknya sesaat sebelum penangkapannya untuk menggunakan waktunya di penjara mempelajari kembali Quran, kitab suci Islam, dan menghafal lagi. Dia menasehati agar menganggapnya sebagai tahanan politik dan sesuatu yang bisa dibanggakan.

“Ini adalah hidup dan pengorbanan kita bahwa kita bertahan dan kami akan terus memberikan kepada negara kita hingga kita merasa martabat di atas tanah air tecinta ini,” katanya seperti dikutip.

Dalam wawancara yang sama, ia menggambarkan kehidupan keluarga normal, menonton film bersama di rumah dan berlibur ke pantai Mesir.

Fatema Abouzeid, seorang aktivis Ikhwanul muda, mengatakan bertemu pertama kali dengannya pada bulan Mei dan menemukan dia sangat sederhana dan sosial.

“Dia tidak sombong dan bahkan ketika orang berbicara baik tentang suaminya, ia hanya akan menjawab dengan “Alhamdulillah’,” kata Abouzeid. “Saya tidak ingin membandingkan dengan Suzanne, namun perbedaan utama yang saya bisa lihat adalah perilakunya terhadap masyarakat. Dia bergaul di antara orang-orang biasa dan berbicara secara normal”.

Mantan anggota parlemen Ikhwanul, Azza al-Gharf, yang telah mengenal Ummu Ahmed selama lima tahun terakhir, mengatakan bahwa ibu negara yang baru itu duduk di antara massa selama kampanye terbuka suaminya, tidak menarik perhatian dan menolak tempat duduk khusus.

Al-Gharf mengatakan apa yang membuat Ummu Ahmed begitu berbeda dari pendahulunya, Suzanne, adalah bahwa “dia adalah salah satu dari kita” dan telah mengalami penderitaan sebagaimana kebanyakan orang Mesir.

“Dia adalah seorang wanita Mesir sejati. Dia berdiri disisi suaminya dengan pengabdian,” kata al-Gharf. “Sebagai Ikhwanul Muslimin, kita tidak ingin “first lady” lagi di Mesir. Kami ingin seorang istri yang mendampingi suaminya, namun menyadari batas-batasnya.”

Sumber:

  1. mercurynews.com
  2. voanews.com