Tag

, , ,

Ditulis: Qanta Ahmed, MD
Jilbab, penutup kepala yang biasa dikenakan para Muslimah, sempat dicela, dibela, dilarang dan dilawan. Beberapa bulan terakhir sebuah front perdebatan tentang jilbab kembali digelar: aturan jilbab dalam pertandinagn olah raga. Perdebatan ini semakin seru karena Olimpiade London besok diselenggarakan bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan, dan pejabat IOC terus mendorong Arab Saudi untuk berpartisipasi dalam Olimpiade tahun ini sekalipun tanpa wakil atlet wanita mereka.

Desakan agar wanita Muslim berjilbab dapat ikut berkompetisi telah lama dilontarkan oleh dunia Islam, meskipun tidak ada persamaan hak terhadap semua wanita dalam masyarakat mereka. Negara-negara Islam secara terus-menerus mengajukan kepada FIFA (Badan Pengelola Sepak bola Internasional) untuk memperbolehkan wanita Muslim mengenakan jilbab dalam pertandingan sepak bola profesional. Akan tetapi pada saat FIFA berusaha lebih fleksibel dalam penerapan aturan-aturannya, ultra-ortodoks Wahabi Arab Saudi, tempat lahirnya Islam dan pemegang otoritas Islam Sunni, mengumumkan bahwa Arab Saudi belum akan mengirimkan atlit wanitanya ke Olimpiade.

Para olahragawati berjilbab melahirkan semangat kuat dalam dua sudut pandang. Bahwa perempuan Muslim sebagai obyek dalam Islam telah berakhir – Wanita Muslim yang menjadi atlet harus dilihat dan diperlakukan sebagai atlit pada umumnya bukan simbol ideologi Islam.

Selain masalah madis dan politik, pada 3 Maret 2012 IFAB (Badan Internasional yang menetapkan peraturan-peraturan pertandingan merekomendasikan jilbab aman bagi pemain dan ofisial model ‘velcro-opening’ yang dirancang seorang Belanda. Pada pertemuan terakhir model itu diketahui berbahaya untuk permainan aktif sehingga perlu penelitian lagi. Komite eksekutif FIFA akan memberikan keputusan final pada 5 Juli nanti, sementara tekanan terus meningkat untuk mengesahkan pemakaian jilbab dalam pertandingan sepak bola.

Disamping soal keselamatan, menurut saya sebuah prinsip yang lebih besar sedang dipertaruhkan di sini. Olahraga, khususnya sepakbola selalu menonjolkan kebanggan di atas konflik etnis dan agama. Sepak bola berkomitmen mempersatukan dunia bersama-sama melalui olahraga. FIFA secara khusus telah lama melarang pemain mengenakan simbol-simbol agama di lapangan.

Sumber: http://www.huffingtonpost.com/